Selasa, 24 November 2015

TAWAKKAL: Menerima Segala Kondisi


Oleh: Ifa Masluhah

Menjalani hidup di dunia yang fana ini pasti kita akan mengalami dan merasakan kesuksesan juga kegagalan. Dua akibat itu adalah mutlak ada, mana mungkin ada orang sukses jika tidak ada orang lain yang gagal. Begitu pula sebaliknya tidak ada orang gagal kalau tidak ada orang sukses. Kesuksesan dan kegagalan itu pasti silih berganti seperti roda berputar. Itulah kenyataan hidup yang memang harus kita jalani. Tidak ada jaminan seseorang selalu sukses atau selalu gagal.

Sukses dan gagal merupakan tolok ukur akhir dari sebuah misi. Saat seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya, bisa jadi dia merasa puas dan senang. Ia akan menganggap kewajibannya mampu diselesaikan. Namun meski terselesaikan, boleh jadi beberapa masalah belum terjawab sehingga orang lain menyimpulkan bahwa tugas yang sudah dia kerjakan gagal. Ada aspek-aspek dalam kehidupan yang sangat kompleks, saling bersinggungan dan tarik menarik. Satu unsur mengklaim A sukses dan unsur lainnya mengklaim A gagal. Perbedaan itu terjadi karena sudut pandang dan ukuran sukses setiap orang memiliki standard yang tak sama.

Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu identik dengan orang yang berhasil secara finansial. Mereka yang dikaruniai rejeki berlebih dengan memiliki kendaraan dan rumah mewah biasanya disebut orang sukses. Tapi terkadang kesuksesan financial tersebut berbanding terbalik dengan kualitas hidupnya. Dari sudut pandang lain terkadang kita menilai “Oh ternyata si A gagal loh dalam membina rumah tangga, dia baru bercerai. Kasihan sekali dia tidak beruntung dalam hal percintaan.” Gossip lainnya kadang terjadi karena terlalu sibuk bekerja, menyebabkan hubungan dengan masyarakat dan lingkungan jauh dari harmonis. Ia pun sulit dalam berbagi dengan orang lain dan jarang bisa berkontribusi secara langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Biasanya fenomena seperti ini kita lihat dalam gambaran serial-serial sinetron. Kita melihat beberapa villa atau rumah mewah di perumahan elite yang sangat sepi. Saat berkunjung ke tempat tersebut yang kita jumpai adalah pembantu dan penunggu rumah. Sedangkan majikannya kemana? Mungkin sedang tugas keluar kota atau sedang menginap di kantornya. Kemudian adegan film menampilkan anaknya kekurangan kasih sayang karena kesepian ditinggal kedua orang tuanya. Kesuksesan materi yang ia dapatkan harus dibayar dengan kegagalan rohani dalam kehidupannya. Rumah mewah miliknya hanyalah kebanggaan semu untuk dipamerkan kepada kawan-kawan dan pesaing bisnisnya.

Bukankah miris dan ironis jika kehidupan kita menjadi seperti itu. Saat yang dikejar adalah kesenangan duniawi semata dan melupakan aspek ukhrowi maka yang didapat adalah kefanaan. Sia-sialah usaha keras yang sudah dilakukan, terlebih apabila cara mencari rizkinya tidak benar. Maka kita harus hati-hati jangan sampai terjerumus menghalalkan segala cara demi menutupi gengsi. Bisa jadi Tuhan tidak menghukum di dunia, namun lihatlah tayangan berita di televisi. Cara kotor mencari rizki tercium bangkainya. Banyak contoh kasus, para koruptor yang sebelumnya menikmati rumah mewah, hidup berfoya-foya akhirnya berakhir di penjara. Naudzu billahi min dzalik.

Kesuksesan ataupun kegagalan jika itu terjadi di dunia ini tidak akan kekal. Setelah kita meninggal harta atau pun kemelaratan akan kita tinggal. Maka janganlah berlebihan dalam mengejar kenikmatan hidup di dunia. Mulailah persiapan dan perjuangan menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi kelak. Allah menyebutkan dalam firman-Nya surat Ad Duha ayat empat: “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada permulaan.” Kehidupan dunia adalah permulaan menuju kehidupan kemudian. Oleh karena itu sebaik-baik bekal adalah keimanan dan ketakwaan yang menancap erat dalam hati dan terbukti dengan ucapan dan perbuatan.

Ketika Anda menghadapi kegagalan, maka hadapilah dengan senyuman dan berlapang dada. Sebaliknya jika Anda tengah mendapati kesuksesan dan kenikmatan hidup, maka janganlah lupa untuk berbagi dan mensyukurinya. Ingat hidup di dunia hanya sementara, yang kekal adalah kehidupan di hari kemudian. Jangan sampai menjadi orang yang gagal di dunia juga gagal di akhirat.

22 April 2015

#tambahan_puisi

Butir dan sebutir
Sebutir beras ternyata bisa menutup urat-urat malu
Sebutir-sebutirnya janji ternyata dilahap juga dengan butiran beras
Pikirkan lagi!!!

Aji Saputra
10/03/15

#nb
Teruslah berjuang karena Allah swt tidak tidur. Yakinlah dengan pertolongannya.